Rabu, 27 Januari 2016

We Are Twin

We Are Twin


“Ayo pelangi cepat” ujar Aurora. Gadis berusia 17 tahun yang berjalan memasuki sebuah game Zone bersama sahabat kecilnya Pelangi. Dengan menggunakan pasmina putih bermotif polkadot hitam dan tubuh yang dilapisi cardigan panjang. Ia menggenggam tangan Pelangi untuk segera masuk ke dalam game Zone.
            Pelangi yang berjalan cepat dibelakang Rora mengenakan pakaian yang serupa tapi tak sama. Yang membedakan mereka hanya warna pasmina yang digunakannya. Jika terlihat dari belakang keduanya seperti saudari kembar yang identik. Namun, jika dilihat dari depan bagian yang mirip pun tidak ada.
            Aurora dan Pelangi sangat senang menggunakan hal-hal yang serupa. Dari kecil mereka selalu bersama dimana pun dan kapan pun. Banyak orang yang mengira bahwa mereka adalah saudara kembar. Tetapi satu darah pun mereka tak sama.
            “Mau main apa dulu kita ?” tanya pelangi yang sedang berbaris diantrian tiket. Usia Pelangi jauh lebih tua dari Aurora. Selisih mereka hanya 1 tahun. Jiwa kedewasaannya lebih terlihat dibandingan Aurora yang masih berperilaku kanak-kanak. Bagi Pelangi hal ini tidak jadi masalah. Karna ia sudah hapal jelas sosok Aurora dari kecil.
            Sering kali mereka berselisih paham tentang apapun. Sifat Aurora yang tidak pernah mau mengalah terkadang membuat Pelangi jengkel menghadapinya. hal seperti ini tidak menjadi penghancur persahabatan mereka. Karna dengan adanya masalah kecil seperti ini persahabatan mereka tetap berjalan tanpa terputus sedikit pun.
            Antrian mulai berkurang. Pelangi ada dibarisan depan untuk membeli 2 buah tiket game Zone. Ia berjalan santai dengan membawa tas kecil mungil di pundaknya menghampiri Aurora yang berada jauh darinya.
            “nihh tiketnya. Sekarang tinggal pilih mau main apa” ujar Pelangi memberikan kartu game zone kepada Aurora yang masih terpaku dihadapan sebuah permainan.
            Berkali-kali mereka pergi ke game Zone. Selalu permainan yang sama yang selalu dipilih mereka untuk pemanasan. Mereka menyukai game lantai dansa yang bisa digunakan oleh 2 bahkan 3 orang sekaligus. Permainan yang sangat menghibur ini menjadi permainan favorit bagi Aurora dan Pelangi.
“Angi ... aku laper nih. Kita makan dulu ya” lesun yang ada dipipi Rora membuat ia nampak manis jika dipandang. Wajah yang selalu natural tanpa makeup membuat Rora lebih populer dikalangan laki-laki disekolahnya dibandingan Pelangi.
Perbedaan ini tidak menjadikan Aurora sombong bahkan membanggakan dirinya didepan Pelangi. Bahkan ia selalu memamerkan bakat yang pelangi punya dihadapan teman laki-lakinya. Pelangi yang mahir bermain alat musik juga tidak menjadikannya sombong. Sesekali ia mengajarkan Aurora bermain gitar dengan petikan nada yang indah agar mereka bisa bermain bahkan menciptakan satu lagu bersama.
“oiya. Tiketnya belum abis nih. Abis makan kita main lagi oke ?” ujar Pelangi kepada Aurora yang sedang fokus menyantap bebek bakar di sebuah resto yang ada di dekat game Zone.
            Sepanjang jalan menuju game Zone mereka bercanda gurau yang memancarkan raut wajah gembira dari keduanya. Seketika Aurora berhenti di sebuah photo box. “Angi kita photo dulu yuk !” Aurora menggenggam tangan Pelangi yang berdiri tepat disampingnya. Pelangi mengangguk pelan mengiyakan ajakan Aurora kepadanya.
Sekitar 5 menit mereka berfose narsis di dalam sebuah box besar yang cukup menampung 2 bahkan lebih orang untuk mengabadikan moment seru setiap hari. Dengan membayar harga yang cukup murah dengan hasil gambar yang memuaska. Banyak sekali pengunjung tertarik untuk ikut mengabadikan momennya di box ini.
            Mereka melanjutkan perjalanan mereka kembali ke game zone. Semua permainan yang ada disana mereka mainkan sampai tak sadar hari mulai larut malam.
“Rora .. pulang yuk. Udah cape ples ngantuk pula” mata Pelangi yang merah dan mukanya yang lesu menandakan energinya sudah terkuras semua hari ini. Aurora yang masih bermain seketika menghentikan permainannya dan berjalan menuju Pelangi untuk segera pulang kerumah.
Rumah mereka tak jauh dari game Zone yang mereka datangi tadi. Sekitar 30 menit dengan menggunakan mobil kesayangan Aurora mereka sampai dirumah. Tak lupa mereka berpelukan dan bercanda melepaskan semua keseruan hari ini yang di lakukan bersama.
            Persahabatan mereka tidak akan pernah mati, bahkan kaldaluwarsa. Karna, sebuah persahabatan akan selalu tetap tumbuh dan bertahan dimana pun, kapan pun, dan apa pun kondisinya. Sahabat sejati, tidak akan selalu ada di saat apapun. Tetapi akan selalu ada kapan pun saat ada yang membutuhkannya.
“ I LOVE YOU MY FRIEND. BECAUSE, YOU ARE MY RIGHT HAND. AND ONE OF MY LEGS”. Tanpa mu aku tidak akan bisa menjalani hidup ini dengan sempurna.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar