We
Are Twin
“Ayo pelangi cepat”
ujar Aurora. Gadis berusia 17 tahun yang berjalan memasuki sebuah game Zone
bersama sahabat kecilnya Pelangi. Dengan menggunakan pasmina putih bermotif
polkadot hitam dan tubuh yang dilapisi cardigan panjang. Ia menggenggam tangan
Pelangi untuk segera masuk ke dalam game Zone.
Pelangi
yang berjalan cepat dibelakang Rora mengenakan pakaian yang serupa tapi tak
sama. Yang membedakan mereka hanya warna pasmina yang digunakannya. Jika
terlihat dari belakang keduanya seperti saudari kembar yang identik. Namun,
jika dilihat dari depan bagian yang mirip pun tidak ada.
Aurora
dan Pelangi sangat senang menggunakan hal-hal yang serupa. Dari kecil mereka
selalu bersama dimana pun dan kapan pun. Banyak orang yang mengira bahwa mereka
adalah saudara kembar. Tetapi satu darah pun mereka tak sama.
“Mau
main apa dulu kita ?” tanya pelangi yang sedang berbaris diantrian tiket. Usia
Pelangi jauh lebih tua dari Aurora. Selisih mereka hanya 1 tahun. Jiwa
kedewasaannya lebih terlihat dibandingan Aurora yang masih berperilaku
kanak-kanak. Bagi Pelangi hal ini tidak jadi masalah. Karna ia sudah hapal
jelas sosok Aurora dari kecil.
Sering
kali mereka berselisih paham tentang apapun. Sifat Aurora yang tidak pernah mau
mengalah terkadang membuat Pelangi jengkel menghadapinya. hal seperti ini tidak
menjadi penghancur persahabatan mereka. Karna dengan adanya masalah kecil
seperti ini persahabatan mereka tetap berjalan tanpa terputus sedikit pun.
Antrian
mulai berkurang. Pelangi ada dibarisan depan untuk membeli 2 buah tiket game
Zone. Ia berjalan santai dengan membawa tas kecil mungil di pundaknya
menghampiri Aurora yang berada jauh darinya.
“nihh
tiketnya. Sekarang tinggal pilih mau main apa” ujar Pelangi memberikan kartu
game zone kepada Aurora yang masih terpaku dihadapan sebuah permainan.
Berkali-kali
mereka pergi ke game Zone. Selalu permainan yang sama yang selalu dipilih
mereka untuk pemanasan. Mereka menyukai game lantai dansa yang bisa digunakan
oleh 2 bahkan 3 orang sekaligus. Permainan yang sangat menghibur ini menjadi
permainan favorit bagi Aurora dan Pelangi.
“Angi ... aku laper
nih. Kita makan dulu ya” lesun yang ada dipipi Rora membuat ia nampak manis
jika dipandang. Wajah yang selalu natural tanpa makeup membuat Rora lebih
populer dikalangan laki-laki disekolahnya dibandingan Pelangi.
Perbedaan ini tidak
menjadikan Aurora sombong bahkan membanggakan dirinya didepan Pelangi. Bahkan
ia selalu memamerkan bakat yang pelangi punya dihadapan teman laki-lakinya.
Pelangi yang mahir bermain alat musik juga tidak menjadikannya sombong.
Sesekali ia mengajarkan Aurora bermain gitar dengan petikan nada yang indah
agar mereka bisa bermain bahkan menciptakan satu lagu bersama.
“oiya. Tiketnya belum
abis nih. Abis makan kita main lagi oke ?” ujar Pelangi kepada Aurora yang
sedang fokus menyantap bebek bakar di sebuah resto yang ada di dekat game Zone.
Sepanjang
jalan menuju game Zone mereka bercanda gurau yang memancarkan raut wajah
gembira dari keduanya. Seketika Aurora berhenti di sebuah photo box. “Angi kita
photo dulu yuk !” Aurora menggenggam tangan Pelangi yang berdiri tepat
disampingnya. Pelangi mengangguk pelan mengiyakan ajakan Aurora kepadanya.
Sekitar 5 menit mereka
berfose narsis di dalam sebuah box besar yang cukup menampung 2 bahkan lebih
orang untuk mengabadikan moment seru setiap hari. Dengan membayar harga yang
cukup murah dengan hasil gambar yang memuaska. Banyak sekali pengunjung
tertarik untuk ikut mengabadikan momennya di box ini.
Mereka
melanjutkan perjalanan mereka kembali ke game zone. Semua permainan yang ada
disana mereka mainkan sampai tak sadar hari mulai larut malam.
“Rora .. pulang yuk.
Udah cape ples ngantuk pula” mata Pelangi yang merah dan mukanya yang lesu
menandakan energinya sudah terkuras semua hari ini. Aurora yang masih bermain
seketika menghentikan permainannya dan berjalan menuju Pelangi untuk segera
pulang kerumah.
Rumah mereka tak jauh
dari game Zone yang mereka datangi tadi. Sekitar 30 menit dengan menggunakan
mobil kesayangan Aurora mereka sampai dirumah. Tak lupa mereka berpelukan dan
bercanda melepaskan semua keseruan hari ini yang di lakukan bersama.
Persahabatan
mereka tidak akan pernah mati, bahkan kaldaluwarsa. Karna, sebuah persahabatan
akan selalu tetap tumbuh dan bertahan dimana pun, kapan pun, dan apa pun
kondisinya. Sahabat sejati, tidak akan selalu ada di saat apapun. Tetapi akan selalu
ada kapan pun saat ada yang membutuhkannya.
“
I LOVE YOU MY FRIEND. BECAUSE, YOU ARE MY RIGHT HAND. AND ONE OF MY LEGS”.
Tanpa mu aku tidak akan bisa menjalani hidup ini dengan sempurna.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar