Rabu, 27 Januari 2016

Why Me ?

Why me ?


Nama ku Rizka Harum Kusumasari. Aku adalah perempuan yang dilahirkan sebagai seorang pemenang. Pemenang dari semua orang yang ada didunia ini. Dan aku percaya itu. Tapi entah mengapa aku selalu merasa ada yang kurang didalam hidup ku. Yaitu, tanpa adanya kasih sayang dari kedua orang tua ku. Yang membuat ku lahir sebagai seorang pemenang. Beban ini yang selalu menjadi tanda tanya besar yang ada dihidup ini. Kenapa harus aku yang seperti ini ?
Sejak lahir, aku tidak pernah merasakan hangatnya pelukan seorang ibu. Tidak pernah merasakan hangatnya juluran tangan seorang ayah saat ia menolongku bila aku terjatuh. Dan tidak pernah melihat senyuman mereka saat aku tersenyum kepadanya. Karena sejak lahir, aku diasuh oleh bibi dan paman ku. Mereka menceritakan semua kepada ku. Bahwa ibu ku menderita penyakit kanker otak yang sangat ganas, sehingga hidupnya tidak akan lama lagi. Setelah aku dilahirkan, semenit kemudian ibu ku meninggal dunia. Sedangkan ayah ku, meninggal saat beliau ingin pergi keluar negeri. Sebab pesawat yang beliau tumpangi terjatuh, dan sampai sekarang masih belum di temukan sedikit pun identitas tentang beliau.
Sebelum ibu ku meinggal, beliau menitip pesan kepada bibi ku untuk merawat ku kelak aku dewasa. Tetapi takdir pun berkata lain. Bibi dan paman ku meninggal dunia saat aku duduk di kelas 3 SD. Mereka meninggal karena kecelakaan lalu lintas ketika ingin menjemput ku kesekolah. Hingga akhirnya aku di titipkan di panti asuhan. Tempat yang sangat tidak nyaman untuk ku. Tempat yang asing bagi ku untuk tinggal dan hidup di sana. Tetapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku hanya bisa menerima takdir ini dengan penuh keikhlasan.
Selama aku dipanti, pertanyaan kenapa itu semakin banyak dibenak ku. Kenapa aku di takdirkan seperti ini ? Kenapa semua orang yang sangat berarti dihidup ku, harus pergi meninggal kan ku ? Kenapa di usia ku yang masih sangat butuh kasih sayang orang tua, malah harus tinggal di sebuah panti asuhan ? Berat rasanya untuk aku menerima takdir ini ya Tuhan. Tetapi aku tidak boleh putus asa. Aku harus tetap menjalaninya walaupun ini sulit.
Waktu demi waktu terus aku jalani di panti ini. Hari demi hari teman-teman ku semakin banyak di panti. Sehingga aku sudah tidak merasakan rasanya hidup sendiri di bumi ini dan merasakan bahagianya mempunyai keluarga baru. Aku sadar masih banyak orang yang mempunyai nasib sama seperti ku. Namun aku lebih beruntung dari mereka, karena aku masih bisa merasakan hidup bersama keluarga ku. Walaupun bukan bersama kedua orang tua ku. Dan aku berjanji pada diri ku. Aku akan menjadi perempuan yang berguna untuk bangsa dan negara ini.
Dari tekat ku itulah, aku tumbuh menjadi seorang remaja perempuan yang kuat, tangguh dan taat kepada agama untuk menghadapi kerasnya hidup ini. Aku lulus SD lebih cepat dari teman-teman ku. Karena kemampuan otak ku yang begitu luar biasa untuk cepat menangkap pelajaran, kata guru ku. Dari situlah aku mendapatkan beasiswa untuk sekolah di SMP yang terkenal di jakarta. Aku sekolah di SMP yang mayoritas orang berada. Tapi aku ? Aku hanyalah anak panti yang mendapatkan sebuah kesempatan bersekolah di sekolah ini. Dan hanya bisa bermimpi untuk satu level dengan mereka.
Cacian, makian, hinaan terus aku dapatkan setiap harinya. Bagi ku mereka hanyalah tembok pemghalang besar yang menghalangiku untuk maju. Tetapi ini semua yang membuatku untuk berkomitmen tinggi pada hidup ku. Yang akan tetap menerima takdir ini dengan ikhlas. Dan suatu saat akan ku beli semua bibir dan ucapan mereka yang menghina ku sekarang. Dan juga aka aku buktikan, bahwa aku bukanlah sampah yang di taruh di panti asuhan, tetapi aku adalah seorang pemenang yang dilahirkan di dunia ini. Hanya itu kata-kata yang membuat aku bangkit dan terus bangkit dari kerasnya takdir ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar